“Berarti kita ga bisa kaya dong, Bu?”
Ada seorang ibu pedagang sayur. Suatu hari, ia mengajak anaknya yang masih belum genap enam tahun pergi berdagang ke pasar. Menjelang sore, dagangan ibu itupun belum juga habis separuhnya, padahal di rumah ia tidak memiliki kulkas dan tidak mungkin besok dijual lagi karena layu. Ibu dan anak itu akhirnya memutuskan untuk pulang karena langit sudah semakin gelap.
Di luar pintu pasar, terlihat seorang renta dengan kaki bengkok mengatungkan tangannya. Ibu itupun menyerahkan beberapa lembar uang kertas hasil jualannya kepada si pengemis.
Sepulangnya dari berdagang, seperti biasa, anak dan ibu itu selalu menyempatkan diri untuk bercengkerama bersama. Bercerita, bercanda, dan tertawa. Anak itu kemudian bertanya kepada ibunya,”Kata ibu, kita harus selalu berhemat. Tetapi kenapa ibu tadi memboroskan uang untuk dibagi-bagi ke orang lain?”
Ibu itu sedikit kaget dengan pertanyaan buah hatinya, namun kemudian ia tersenyum dan membalas pertanyaan anaknya itu. “Adik, boros itu bukannya kita banyak memberi kepada orang lain. Boros itu, kalau kita banyak mengeluarkan uang untuk sesuatu yang tidak kita perlukan. Contohnya, adik minta mobil-mobilan baru, padahal kan adik masih punya banyak mainan di rumah yang masih bisa dimainkan to? Naaah, itu baru namanya pemborosan.”
“Oh gitu ya, Bu.. mmmm tapi kalau kita banyak memberi kan berarti kita banyak mengeluarkan uang. Bukannya itu boros juga, Bu? Kata Bu Guru, hemat itu pangkal kaya. Kalau ibu banyak mengeluarkan uang, berarti kita ga bisa kaya dong, Bu?” tanya anak itu polos.
Mendengar kepolosan anaknya, ibu itupun kembali tersenyum dan menjawab dengan penuh kehangatan. “Sayang.. apa ibu pernah mengajarkan kalau kita mau kaya, kita tidak boleh memberi kepada orang lain?”
Ibu itu diam sejenak, memandang raut wajah anaknya, kemudian membelai dengan penuh kasih sayang dan berkata,”memberi itu menunjukkan seberapa peduli kita kepada orang lain yang lebih membutuhkan. Kalau kita banyak memberi, berarti kita banyak peduli dengan orang lain. Kalau kita banyak peduli kepada orang lain, berarti kita sudah menabung untuk kebaikan. Adik juga diajarkan kan, kalau mau kaya harus rajin menabung? Itu berarti, kita sudah bertambah kaya karena kita baru saja menabung untuk kebaikan.”
“Oohh.. gitu ya, Bu..” anak itu mengangguk.
“Iya sayang.. kekayaan itu bukan diukur dari harta, tetapi dari hati yang kita miliki. Orang kaya itu, bukan orang yang memiliki banyak harta atau uang, tapi orang kaya itu orang yang masih mau memberi di tengah-tengah kemiskinannya.” tambah ibu itu.
Bibir anak itupun mengembang dan menyeru dengan bangga,”Horee, kita kaya!”